Akhir-akhir ini bangsa Indonesia sering berteriak mengenai kesenian yang mereka miliki dipergunakan oleh negara lain. Tetapi terdapat suatu keanehan dimana bangsa Indonesia hanya merasa bangga dengan keseniannya akan tetapi, enggan mempelajari, menghargai, memahami kesenian yang dimilikinya tersebut. Sehingga, hal yang terjadi bangsa ini hanya mampu berteriak menangis apabila keseniannya diakui sebagai milik dari negara lain. Hal ini adalah sebuah indikasi dari lemahnya pertahanan kebudayaan kita, terutama dari aspek kesenian.
Meninjau dari hal sering terjadi diatas, marilah kita melihat secara positif terlebih dahulu dengan tidak mencacimaki negara lain. Untuk itu marilah kita sejenak keluar dari pemikiran yang sangat subjektif dan memandangnya dari segi perspektif yang berbeda. Sebagai permulaan kita bisa mengkaji dari fenomena permulaan masalah ini. Hal ini bermula dari keinginan tersembunyi Malaysia yang ingin menjadi induk dari kebudayaan melayu dengan dicetuskannya semboyan mereka yang terkenal yakni “Malaysia the Truly Asia”. Semboyan tersebut adalah sebuah keinginan untuk mengumpulkan bentuk-bentuk kesenian di Asia menjadi satu wadah. Hal ini dapat dianalogikan seperti sebuah kotak dengan isi permen coklat yang menawarkan berbagai macam rasa dan kemudian ditawarkan kepada masyarakat dunia. Tentu anda dapat membayangkan pemasukan devisa bagi negara Malaysia apabila hal itu terwujudkan.




